- Hendaklah wanita berhias diri dengan menjalankan sunnah fitrah.
عَشْرٌ
مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ
وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ
وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ قَالَ
زَكَرِيَّاءُ قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ
الْمَضْمَضَةَ
“Ada sepuluh macam fitrah, yaitu memotong kumis, memelihara
jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen),
memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu
kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” Zakaria berkata bahwa Mu’shob
berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, aku merasa yang kesepuluh adalah
berkumur.” (HR. Muslim no.261)- Wanita semakin menawan dengan rambut yang panjang.
- Membiarkan alis mata begitu saja tanpa mencukurnya.
لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ
“Allah melaknat orang yang mentato dan yang minta ditato. Allah
melaknat pula orang yang mencabut rambut wajah dan yang meminta dicabut.” (HR. Muslim no. 2125)Imam Nawawi rahimahullah ketika menerangkan an namsh, beliau katakan, “An namishoh adalah orang yang menghilangkan rambut wajah. Sedangkan al mutanammishoh adalah orang yang meminta dicabutkan. Perbuatan namsh itu haram kecuali jika pada wanita terdapt jenggot atau kumis, maka tidak mengapa untuk dihilangkan, bahkan menurut kami hal itu disunnahkan.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14: 106)
- Mengukir hiasan pada tangan dan kaki dengan menggunakan inai.
Namun tentu saja perhiasan tersebut tidak ditampakkan selain pada suami, bukan jadi bahan pajangan untuk khalayak ramai karena sama saja dengan berhias diri yang terlarang.
- Mewarnai rambut yang telah beruban dengan menghindari warna hitam.
- Wanita boleh memakai perhiasan emas dan perak.
Semoga bermanfaat dan yang membacanya meraih hidayah.
* Pembahasan di atas dikembangkan dari risalah Syaikhuna Syaikh Shalih Al Fauzan “Tanbihaat ‘ala Ahkami Takhtasshu bil Mu’minaat”.
—
Darush Sholihin, 18 Muharram 1436 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar